Jakarta Utara Terancam Banjir Rob Pekan Depan, Air Laut Naik Tanpa Hujan

oleh -109 Dilihat
oleh

Banjir rob diprediksi kembali terjadi di 11 titik Jakarta Utara pada 9-17 Januari 2025.

BMKG Prediksi 11 Wilayah Pesisir Jakarta Utara Berpotensi Banjir Rob Pertengahan Februari 2025

Majalah Jakarta Utara – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan masyarakat Jakarta Utara (Jakut) untuk mewaspadai potensi banjir rob yang diprediksi akan terjadi pada pertengahan Februari 2025. Direktur Meteorologi BMKG, Eko Prasetyo, menyatakan bahwa fenomena ini dipicu oleh pasang maksimum air laut yang bisa menyebabkan genangan di wilayah pesisir meski tidak disertai hujan.

“Nanti di pertengahan Februari, sekitar tanggal 12 hingga 15, akan ada potensi rob yang bisa terjadi di wilayah pesisir Jakarta Utara,” ujar Eko Prasetyo kepada Kompas.com, Kamis (6/2/2025).

Banjir rob merupakan fenomena naiknya permukaan air laut ke daratan yang biasanya terjadi saat pasang maksimum atau perigee bulan. Fenomena ini kerap menyebabkan genangan di kawasan pesisir yang rendah, mengganggu aktivitas masyarakat, merusak infrastruktur, dan mempengaruhi lalu lintas jalan di wilayah terdampak.

Wilayah Pesisir Jakarta Utara yang Berisiko

BMKG menyebut setidaknya 11 wilayah pesisir Jakarta Utara memiliki risiko tinggi terdampak rob. Wilayah-wilayah tersebut antara lain:

  1. Kamal Muara

  2. Kapuk Muara

  3. Penjaringan

  4. Pluit

  5. Ancol

  6. Muara Angke

  7. Marunda

  8. Tanjung Priok

  9. Kelapa Gading (sebagian pesisir)

  10. Sunter

  11. Pluit Barat

Di beberapa titik ini, genangan bisa mencapai 15–25 cm, cukup untuk mengganggu kendaraan bermotor dan pejalan kaki, terutama di ruas jalan dekat pantai atau kanal.

Penyebab Banjir Rob

Fenomena banjir rob dipengaruhi beberapa faktor, termasuk:

  • Pasang maksimum air laut, di mana permukaan laut naik lebih tinggi dari normal.

  • Perigee bulan atau posisi bulan paling dekat dengan bumi, yang meningkatkan gravitasi dan elevasi air laut.

  • Drainase yang belum optimal, sehingga air laut sulit kembali ke laut saat pasang surut.

  • Penurunan muka tanah (land subsidence) di kawasan pesisir Jakarta, akibat ekstraksi air tanah dan pembangunan infrastruktur.

BMKG menjelaskan, meskipun hujan tidak terjadi, air laut tetap dapat meluap ke daratan karena kombinasi faktor-faktor tersebut. Oleh karena itu, warga pesisir diimbau tetap waspada dan mengantisipasi potensi genangan.

Tindakan Pemerintah dan Mitigasi

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, melalui BPBD Jakarta Utara, telah menyiapkan beberapa langkah mitigasi:

  1. Peningkatan kapasitas pompa air dan penyedotan genangan di titik-titik rawan rob.

  2. Patroli rutin petugas BPBD untuk memantau kondisi pasang laut dan genangan di permukiman dan jalan.

  3. Sosialisasi dan peringatan dini kepada masyarakat melalui media sosial, radio, dan papan informasi elektronik di kawasan pesisir.

  4. Koordinasi dengan Sudin SDA (Sumber Daya Air) untuk memastikan saluran drainase dan kanal tetap bersih dari sedimentasi dan sampah yang dapat menghambat aliran air.

Selain itu, Pemprov DKI Jakarta juga mendorong program jangka panjang untuk menahan rob, seperti:

  • Pembangunan tanggul dan dinding pantai (coastal defense).

  • Reklamasi dan penguatan pesisir dengan vegetasi bakau untuk menahan gelombang.

  • Pemantauan permukaan tanah dan pengurangan eksploitasi air tanah untuk mengurangi penurunan muka tanah.

Dampak Banjir Rob bagi Masyarakat

Banjir rob tidak hanya menyebabkan genangan air di jalan, tetapi juga menimbulkan dampak sosial-ekonomi:

  • Gangguan transportasi, terutama di jalan utama pesisir seperti Pluit dan Tanjung Priok.

  • Kerusakan rumah dan fasilitas umum di kawasan rendah, terutama yang berada dekat pantai.

  • Gangguan aktivitas ekonomi, termasuk pedagang kecil dan pasar tradisional di pesisir.

  • Risiko kesehatan, akibat genangan air yang dapat membawa penyakit kulit, diare, dan demam.

Imbauan BMKG dan BPBD

BMKG dan BPBD Jakarta Utara mengimbau warga untuk:

  1. Memantau prakiraan cuaca dan tinggi muka air laut secara rutin melalui BMKG dan aplikasi resmi pemerintah.

  2. Mengamankan barang berharga di rumah dan lingkungan yang rawan rob.

  3. Menghindari aktivitas di kawasan pesisir saat pasang maksimum dan genangan terjadi.

  4. Melaporkan kondisi darurat ke call center BPBD Jakarta Utara jika terdapat genangan yang mengganggu transportasi atau membahayakan masyarakat.

BMKG menegaskan bahwa fenomena rob bersifat musiman dan biasanya terjadi beberapa kali dalam setahun, terutama saat bulan purnama atau perigee. Dengan pemantauan dan mitigasi yang tepat, risiko dampak banjir rob dapat dikurangi secara signifikan.

“Masyarakat di pesisir Jakarta Utara harus waspada, meski hujan tidak turun, karena pasang maksimum bisa menyebabkan genangan. Tetap ikuti informasi resmi dan hindari panik,” pesan Direktur Meteorologi BMKG, Eko Prasetyo.

Skintific

No More Posts Available.

No more pages to load.